Suatu ketika, saya berbincang dengan seorang Karyawan Senior dari sebuah lembaga negara. Program magang membuat saya dekat dengan beliau. Beliau dikenal merupakan mantan GM Ast*a regional Sumatera. Karakter keras dan tegas, membuat perbincangan itu sangat menarik. Dari cara bicara, sosok ini terlihat cerdas dibalik intonasi yang melekat menjadi dirinya. Sesekali pelan, sesekali pula meledak-ledak.

Beliau suatu ketika dipenjara karena masalah jabatan dan posisi kantor sebelumnya.

Allah hendak menggiringnya. Dendam terhadap lawan politik kantor, dimasa awal sempat mengelegar di hati. Namun lambat laun hilang. Seiring dengan kedekatannya dengan Quran. Ia baca terjemahannya, mempelajari tafsirnya hingga akhirnya rasa dendam tersebut hilang tanpa bekas. Tetes air mata, kerap pula membasahi pipi.

MasyaAlllah. Begitulah al-Quran, bagi mereka yang benar-benar tulus hatinya. Maka berbekaslah ia. Tergoreslah hati dengan keteduhan dan petunjuk. Siapapun itu, maka hatinya tak kan dapat menolak indahnya lantunan al-Quran

Allah telah menggirinya jauh dari hidupnya yang lama. Pintu penjara, baginya adalah pintu surga. Sesuatu yang dikira sebuah bencana, ternyata merupakan sebuah nikmat tersebar. Hidayah turun padanya.

Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapaun yang dikehendakinya. Tak pandang bulu dan usia. Tak kenal kedudukan dan jabatan. Takwa, menjadi satu-satunya tolak ukur.

 

Pancaran wajahnya, tampak sekali Jiwa baru telah mengisi relung hatinya.

 

Waktu-waktu ini, adalah masa untuk memperbanyak ibadah. Lembaga Negara Independen dimana ia berkhidmat sekarang, punya wewenang untuk mengawasi maladministrasi pemerintahan dan pelayanan publik. Keadilan dari sini ditegakkan.

“pekerjaan ini tidak lagi masalah duit bagi saya… ini ¬†ibadah, untuk hidup saya telah punya beberapa bisnis yang lain…” Ujarnya kepada penulis.

 

Just Share.

 

# RYU – 14 Des 2017 @Pekanbaru City